April 23, 2014
April 06, 2014
(Flashfiction) Maaf
April 06, 2014“Dengarkan penjelasanku dulu Falina!” Markel memasang raut memohon. Dilihatnya Falina yang sedang melipat tangan di ambang teras rumah. Mem...
“Dengarkan penjelasanku dulu Falina!”
Markel memasang raut memohon. Dilihatnya Falina yang sedang melipat tangan di ambang teras rumah. Memalingkan mukanya kasar.
“Falina! Kita sama-sama saling mencintai, kan?”
Falina menoleh. Tak tahan juga ia rupanya menahan air matanya.
“5 tahun aku mengabdi padamu, Mas Kel! 5 tahun ku serahkan jiwa dan ragaku padamu. Mengapa masih kau tanyakan itu? Tentu aku mencintaimu!”
Markel memasang raut memohon. Dilihatnya Falina yang sedang melipat tangan di ambang teras rumah. Memalingkan mukanya kasar.
“Falina! Kita sama-sama saling mencintai, kan?”
Falina menoleh. Tak tahan juga ia rupanya menahan air matanya.
“5 tahun aku mengabdi padamu, Mas Kel! 5 tahun ku serahkan jiwa dan ragaku padamu. Mengapa masih kau tanyakan itu? Tentu aku mencintaimu!”
March 22, 2014
(Flashfiction) Dewi Air Mata
March 22, 2014“Mengapa engkau terus menangis?” Diana melepaskan kedua tangannya yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Mengadahkan kepalanya sedikit. ...
“Mengapa engkau terus menangis?”
Diana melepaskan kedua tangannya yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Mengadahkan kepalanya sedikit. Di hadapannya, ada seorang gadis yang sangat cantik seperti bidadari.
“Pacarku…...”
Ujar Diana masih terisak, sambil kembali menyembunyikan wajahnya. Tidak tahan dengan beban yang ia hadapi. Namun gadis yang berdiri di depannya itu bukan menunjukkan wajah iba, namun malah memasang wajah ketus.
“Huh. Cowok itu banyak! Kamu nggak perlu nangis!”
“Pacarku…...”
Ujar Diana masih terisak, sambil kembali menyembunyikan wajahnya. Tidak tahan dengan beban yang ia hadapi. Namun gadis yang berdiri di depannya itu bukan menunjukkan wajah iba, namun malah memasang wajah ketus.
“Huh. Cowok itu banyak! Kamu nggak perlu nangis!”
March 21, 2014
(Flashfiction) Modem
March 21, 2014Fauzia masih terus menunduk. Menelungkupkan lututnya dan memeluknya erat-erat. Ketika kesedihan paling larut menimpa, biasanya ia akan memel...
Fauzia masih terus menunduk. Menelungkupkan lututnya dan memeluknya erat-erat. Ketika kesedihan paling larut menimpa, biasanya ia akan memeluk dirinya sendiri. Terdengar isak tangisnya yang belum juga reda.
March 21, 2014
(Flashfiction) Tapi
March 21, 2014Dairy masih terus berlari. Terusan gaun putih berhias mutiara-mutiara peraknya seakan menyapu jalan mengikuti gerak langkah kedua kakiny...
Dairy masih terus
berlari. Terusan gaun putih berhias mutiara-mutiara peraknya seakan menyapu
jalan mengikuti gerak langkah kedua kakinya yang telanjang. Ditentengnya kedua selop
silver bercorak bunga dan tangan satunya mengangkat rendah bawah gaunnya. Ia terus berlari sambil sesekali menengok ke
belakang dengan raut khawatir. Jalanan yang ia telusuri tiba-tiba menyepi. Sekali
lagi, ia menoleh ke belakang, dan tak menemukan apa-apa, atau siapa-siapa. Dairy
menoleh ke sekeliling dan kemudian melangkah gontai ke pepohonan samping jalan.
Kakinya terhenti di
depan sebuah pohon beringin besar. Dairy menjatuhkan kedua selopnya ke tanah
tanpa memakainya kembali. Dipejamkan matanya dan kedua tangannya dikepal
erat-erat.
“Kelinci putih! Muncul!
Kelinci putih!!! Bawa aku ke wonderland! Bawa aku kemana pun!”
“Kelinci putih!!!!”
Dairy membuka mata.
Mimik wajahnya semakin khawatir karena sekelilingnya tak berubah. Namun ia tak
putus asa, dipejamkan lagi kedua matanya dan meminta pada-entah-siapa agar
kelinci putih itu datang.
“Dairy!!”