What?



Aku benci saus tomat

Karena dulu kamu pernah berkata begitu
Aku pernah ikut-ikutan tak suka bakso karena kamu juga tidak suka
Aku sempat ingin gila
Bagaimana bisa kamu seperti itu?
Tapi aku ingin jago bela diri
Biar kamu tak bisa mengelak bahwa keputusanku mencintaimu itu benar



---------------------------------------------------------------


Yay

Aku menemukanmu di galeri
Pada lukisan abstrak yang gampang gampang sulit kupahami 
Percayalah, kalau beruntung aku bisa menebak dengan tepat maknanya
Karena sedikit-sedikit aku senang seni
Aku sering terpanggil oleh warna-warni 
Aku menemukanmu di galeri
Pada ilustrasi bergambar anak-anak atau seorang gadis remaja,
hal-hal menggemaskan semacam itu
Aku menemukanmu di galeri
Pada pandangan sepasang mata yang menjelajahi tiap karya seni rupa terpajang di dinding
Pada hentakan sepatu manusia  
Pada suara suara yang mengomentari tiap polesan di atas kanvas
Aku menemukanmu di galeri
Tepat di pojok kanan sana, jauh dari kerumunan orang
Hanya ada beberapa, terlihat mencoba memahami esensi lukisanmu atau mungkin saja mampir tak sengaja
Aku menemukanmu di galeri
Di sudut imaginasimu
Seluruhnya kamu dan karyamu

Aku senang
Apalah aku,
cuma liaison officer kamu


---------------------------------------------------------------






Bianglala

Apakah kamu pernah memikirkanku?
Apa saja tentangku
Sebentar atau lama
Senang atau kesal
Baik atau buruk

Apakah kamu pernah memikirkanku?
Seperti aku memikirkanmu
Sepanjang hari
Dari pagi sampai sore
Lalu dari malam lanjut sampai pagi lagi
Karena serupa biang lala, kamu selalu berputar di pikiranku




---------------------------------------------------------------



Salah besar

Aku salah besar.
Aku salah besar menaruh fotomu di meja kerjaku,
Aku jadi tidak bisa fokus.



--------------------------------------------------------------- 



But me
 
“Kamu.. kemana aja...?”
Tanyaku pelan, dan tiba-tiba saja mataku berkaca mendapatinya yang perlahan menunduk tak berani menatapku.
Aku benci ini! Aku benci rasa sakit yang tiba-tiba muncul di sekujur tubuhku. Aku benci sesak yang tiba-tiba menyelusup paksa membanjiri kerongkongan hingga ulu hatiku. Aku benci dingin malam yang malah berpihak pada realita.
“Maaf Sil... Aku nyoba buat cari tau kamu. But I found nothing
Ujarnya menyesal. Ia menunduk, matanya memerah dan sebentar lagi bisa dipastikan setetes air matanya jatuh.
Aku membuang muka sembari menghela nafas. Hening cukup lama.
“Kamu cari aku kemana..?”
Everywhere, Sil..”
Everywhere but me


 ---------------------------------------------------------------



Sendiri

Lagi-lagi ia termangu.
Di sebelah jendela, bersandar ke tembok bercat putih pucat setiap pukul 4 sore. Memandangi entah apa, mungkin rasa luka yang tak berwujud. Jelas saja. Luka tersebut berada di jauh di lubuk hatinya yang terdalam. Ia pernah bertekad untuk segera menghapus luka tersebut, dengan memaksa untuk memulai hidup baru di lingkungan baru. Mencoba menyibukkan diri dengan kumpulan kertas-kertas dan pena di meja kerjanya. Tapi apadaya, yang ia lakukan malah kembali menuliskan kisah kisah lamanya. Yang terjadi malah kenangan di waktu lampau tiba-tiba saja menyeruak menghinggap di pikirannya. Setiap pukul 4 sore, -hingga tengah malam sebenarnya.

Sesekali ia menangis, karena sudah sangking lelahnya. Sesekali ia pun berbaring, karena sudah sangking hilang tenaganya. Sia-sia, harapan yang ia panjatkan tiap kali ingin tidur agar esok hari bisa membuka mata dengan hilangnya ingatan-ingatan pahit di kepalanya, nyatanya tidak sepenuhnya tercapai. Setelah bangun dan mandi, ia langsung beranjak ke meja makan. Mulai menyantap makanannya, lalu melihat ke sekelilingnya dan sadar.

Seseorang telah pergi.

Ia sendiri.



 ---------------------------------------------------------------



Tolong

Aku sendiri tidak ingat betul sejak kapan zat-zat yang membuatku payah ini kemudian menyelusup dengan mudah menjulur ke sekujur tubuhku. Zat-zat inilah yang selalu mengganggu jadwal tidurku, yang tanpa izin memasuki rongga tubuhku, memaksa masuk tenggorokanku dan seringkali membuatku tercekat menelan pahit karena tak kunjung bertemu denganmu.
Awalnya aku kira sewajarnya rindu tak seperti ini. Namun sejak dulu, ternyata rindu memang seharusnya ditakdirkan untuk hadir dan bertingkah semenyebalkan ini. Sayangnya, aku jarang menemukan peluh di keningku ketika mencoba sekuat tenaga dan jiwa untuk melupakanmu. Sayangnya, semua berjalan begitu hikmatnya. Hingga yang kurasakan malah semakin candu merindu dan menggebu-gebu ingin bertatap muka denganmu. Tak sabar menunggu menikmati tiap deru nafasmu dan renyah tawa serta getar bahumu.
Banyak hal yang sesungguhnya belum tuntas. Banyak rasa yang sebenarnya belum kau tahu sepenuhnya. Namun punggungmu sudah lebih dulu berlalu meninggalkanku. Bayangnya bahkan tak sempat terlihat. Bukan, kamu bukan hantu. Tapi mengapa kau senang datang dan berlalu secepat terbangnya abu?
Saat ini aku sedang lelah. Biasanya aku menulis untuk melupakan tentang kita, namun terkadang untuk merasakan jiwa "kita" lagi. Mungkin kau bisa tahu bila melihat dan mendengar betapa berat hembus nafasku, yang mengartikan bahwa betapa pilunya hatiku mendambamu.
Dan terkadang langit pun mengerti, saat ini ia sama-sama kelabu, seperti aku.
Tolong, aku berada di Kemanggisan dan aku butuh payung.